Cara Budidaya Maggot BSF

 

Budidaya maggot

Budidaya Maggot BSF

Budidaya bsf / maggot bsf sejatinya terdiri dari 2 kegiatan utama sekaligus, yaitu :

 

  1. Kegiatan budidaya bsf (lalat)

Budidaya bsf ini dilakukan dalam sebuah kandang dimana tujuan budidaya ini dimaksudkan untuk menghasilkan telur-telur yang nantinya akan ditetaskan menjadi larva / maggot.

Budidaya ini dilakukan untuk mendapatkan bibit larva dengan mudah dan kontinyu dibanding dengan mengandalkan hasil tangkapan dari alam.

Kegiatan budidaya ini diawali dengan memasukan sejumlah bibit pupa ke dalam kandang yang akhirnya menetas menjadi lalat. Jumlah bibit didalam kandang harus di maintain agar populasi bsf dalam kandang dapat terjaga. Di Indonesia yang beriklim tropis dimana kondisinya basah, lembab, panas, sangat mendukung dari budidaya ini karena aktifitas bsf sangat dipengaruhi oleh intensitas sinar matahari yang masuk ke dalam kandang.

Berbeda dengan di luar negeri yang memiliki 4 musim, pada saat musim dingin merekan akan mempunyai kendala sehingga mengharuskan budidaya dibantu oleh sinar buatan sebagai pengganti sinar matahari yang kurang.

 

  1. Kegiatan budidaya maggot bsf

Kegiatan budidaya maggot bsf diawali dengan tahap penetasan telur-telur bsf yang dihasilkan dari kandang. Penetasan ini dilakukan pada media / wadah box, diawali sejak meletakan telur sampai akhirnya menetas sampai kurang lebih 2 hari baru dipindah ke dalam biopond sebagai media pembesaran.

Pada tahap ini maggot ini mengalami beberapa fase yaitu fase larva muda (sekitar 1-18 hari), fase prepupa (sejak hari ke 19 selama 1 minggu), fase prepupa (normal 3-7 hari), lalu akhirnya kembali menjadi lalat. Fase maggot ini jauh lebih lama dibandingkan dengan waktu pada fase lalatnya yang rata-rata hanya 7 hari.

Selama fase maggot/larva ini sejak hari pertama sampai menjelan fase prepupa, maggot ini mempunyai aktifitas makan yang tinggi. Rata-rata 10.000 larva / maggot dapat menghabiskan 1Kg makanan organik dalam 24 jam. Dan kita dapat memanfaatkan bahan organik berupa limbah seperti limbah pasar (buah dan sayuran), limbah rumah tangga, restoran, dsb.

Limbah pasar adalah jenis yang paling mudah didapatkan dalam jumlah banyak. Dalam budidaya skala menengah kebutuhan akan limbah organik ini bisa mencapai 1 ton lebih setiap hari dan dapat terus ditingkatkan seiring perkembangan budidaya maggot bsf ini.

Skala budidaya yang dilakukan dapat mempengaruhi jenis media yang digunakan, hal ini dipengaruhi oleh luasan tempat dan efisiensi yang harus dicapai dari masing-masing skala budidaya. Namun secara prinsip dari skala manapun kegiatan utamanya adalah sama, yang membedakan hanya beberapa media dan tentu saja ukuran dan hasil yang didapatkan.

Di luar negeri, budidaya bsf dan maggot bsf ini telah dilakukan dalam skala industry, melibatkan banyak ahli dan peralatan modern. Kami melakukan observasi dan aplikasi dalam budidaya skala menengah agar dapat menjadi row model bagi rata-rata peternak tradisional yang ada.

Telah banyak hasil observasi yang didapat untuk kedua jenis kegiatan ini dimana targetnya adalah efisiensi tenaga, biaya, lahan, dan hasil panen yang didapat harus dapat dengan mudah diaplikasikan oleh seluruh lapisan masyarakat yang terkait dengan budidaya ini.

 

(Adi | Koloni)